Nusa-Antara
Teuku Umar. Sebagaimana kita ketahui, beliau adalah seorang yang diberi gelar Pahlawan Nasional oleh negara Indonesia. Hal itu memang pantas didapatkan olehnya mengingat begitu banyak pengorbanan yang beliau lakukan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan melepaskan Indonesia dari belenggu Imperialisme dan kolonialisme Belanda. Sekarang, pro kontra tentang kepahlawanan Teuku Umar masih saja hangat diperbincangkan oleh berbagai kalangan di Indonesia.
Hal seperti ini terjadi lantaran dalam catatan sejarah hidupnya, ia pernah membelot kepada Belanda dan mendapatkan gelar Teuku Johan Pahlawan dari belanda. Orang yang dianggap sebagai pahlawan oleh Belanda tentunya merupakan musuh bagi rakyat Nusantara. Terlebih lagi Teuku Umar membelot pada Belanda sebanyak dua kali. Yang pertama pada tahun 1883 dan yang kedua pada tahun 1893. Hal inilah yang menjadikan status kepahlawanan Teuku Umar dipertimbangkan oleh berbagai kalangan. Beberapa di antara mereka bahkan menganggap sosok Teuku Umar sekarang ini hanyalah hasil manipulasi sejarah yang dilakukan oleh rakyat Aceh. Apakah hal ini benar adanya? Apakah Teuku Umar sungguh memutar haluan dan memihak kepada Belanda? Tentu ada penjelasan di balik semua ini.
Teuku Umar di Mata Rakyat Aceh
Teuku Umar Johan Pahlawan lahir pada tahun 1854 di Meulaboh, tepatnya di Gampong Masjid, sekarang Gampong Belakang, Kecamatan Johan Pahlawan. Beliau adalah anak dari seorang ayah yang bernamaa Teuku Tjut Mahmud dan ibu Tjut Mohani. Sejak berusia 19 tahun beliau telah bertempur melawan Belanda sejak agresinya yang pertama pada tahun 1873 ysng dipimpin oleh Jendral Kohler. Sejak muda kemampuan memimpinnya sudah sangat baik. Beliau membangkitkan semangat perlawanan rakyat terhadap Belanda. Sehingga seluruh rakyat Aceh dari Meulaboh sampai Pidie bersedia untuk bekerjasama dalam melawan kophe Belanda. Bahkan beliau juga berhasil menggerakan hati para ulee baling untuk menjalankan perang sabil melawan Belanda. Sebut saja Panglima Polim dan Teuku Cik Ditiro yang didukung oleh Teuku Umar dengan memberikan motivasi serta uang sabil kepada mereka untuk biaya perang. Menurut Carl van Clausewitv, secara teori, perang memerlukan keteguhan mental (strength of mind) atau karakter yang teguh (strength of character). Dalam hal ini, Teuku Umar telah berperan sebagai tokoh yang menumbuhkan mental kepada pasukannya dan orang sekitarnya. Selama hidupnya, beliau dikenal sebagai seorang yang tergas, pandai memobilisasi massa, dan ahli strategi.
Sebelum berperang, beliau berorasi di hadapan rakyat Aceh untuk membakar semangat perjuangan mereka dalam melawan kophe-kophe Belanda. Beliau menyebut Belanda sebagai kophe agar rakyat Aceh menjadi lebih semangat untuk melawan Belanda, orang-orang kafir yang mengingkari keesaan Allah dan menindas Umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Teuku Umar memang piawai dalam berkata-kata. Dengan begitu, rakyat berperang dengan hati ringan dan semangat yang berkobar karena pikiran mereka dipenuhi dengan semangat jihad fi sabilillah. Mati syahid atau hidup dengan kehormatan berupa kemenangan dan kemerdekaan yang diridhoi Allah. Bagi mereka, tak ada yang lebih indah daripada kedua hal tersebut.
Strategi ‘Muka Dua’ Teuku Umar
Berbeda dengan para panglima perang lain di Aceh, Teuku Umar merupakan seorang bangsawan dan panglima perang yang sangat pandai dalam mengatur strategi perang. Contohnya ketika Teuku Umar membagi pasukannya menjadi dua bagian yang salah satunya ditempatkan di daerah perkotaan sedangkan yang satunya lagi diletakkan di daerah pegunungan yang jarang ditempati manusia. Ketika Belanda mengetahui bahwa Teuku Umar dan pasukannya berada di Loong, Teuku Umar telah siap. Serangan Belanda menjadi sia-sia karena mereka dijebak oleh Teuku Umar dan pasukannnya untuk masuk ke dalam hutan yang lebat dengan medan yang sulit. Hutan tersebut telah dipasangi berbagai jebakan untuk menghadapi pasukan Belanda. Gerakan Teuku Umar saat memimpin pasukan sangat cepat dan ia tak dapat ditakut-takuti meriam-meriam yang Belanda bawa karena Umar dengan mudah dapat mundur ke daerah pegunungan yang berhutan lebat. Pada saat yang genting Umar selalu mendapatkan bantuan dari istrinya Cut Nyak Dien dan pengikut-pengikutnya yang setia. Mereka merintis jalan di hutan yang jarang dilalui manusia. Demi keselamatan prajuritnya, Teuku Umar melarang mereka menggunakan api dan senapan agar tidak kelihatan oleh musuh.
Strategi ini hanyalah satu dari sekian banyak strategi cemerlang Teuku Umar. Dan salah satu strategi perangnya yang paling terkenal adalah keberpihakannya Teuku Umar kepada Belanda. Beliau pernah dua kali memihak kepada Belanda yaitu pada tahun 1883 dan tahun 1893. Pada keberpihakannya yang pertama kepada Belanda, Teuku Umar mendapatkan banyak Uang dan Materi lainnya untuk beliau kirimkan kepada para pejuang Aceh lainnya. Namun hal ini hanya bertahan selama satu tahun karena pada tahun 1844 terjadi peristiwa kapal ‘’Nicero” milik Inggris yang terdampar di wilayah raja Teunom yang kuat. Kapal beserta kapalnya itu disita oleh raja Teunom. Inggris meminta tolong kepada Belanda untuk membebaskan kapal tersebut. Belanda akhirnya mengirim Teuku Umar untuk misi tersebut, tetapi ironisnya bukan untung yang didapat oleh Belanda, melainkan rugi. Seluruh harta, amunisi, dan senjata yang telah diberikan oleh Belanda tersebut dibawa kabur oleh Teuku Umar. Bahkan. Pasukan-pasukan Belanda yang berada di kapal misi pembebasan tersebut dibunuhi oleh Teuku Umar dan pasukannya. Belanda murka. Pemerintah kolonial Belanda mengumumkan bahwa siapa saja yang bisa membunuh Teuku Umar akan mendapatkan uang sebanyak 25.000 dolar. Tetapi pengumuman itu tidak berdampak apapun bagi rakyat aceh, karena Teuku Cik Ditiro yang merupakan seorang ulama pada saat itu telah mengeluarkan fatwa bahwa membunuh Teuku Umar bukanlah jihad fi sabilillah. Padahal tadinya Teuku Cik Ditiro menentang tindakan Teuku Umar. Tetapi setelah beliau melihat keberanian beliau Teuku Umar, Teuku Cik Ditiro pun mendukung tindakannya. Sejak peristiwa itu, Teuku Umar kembali bergabung dengan rakyat Aceh untuk memerangi Belanda.
Keberpihakan Teuku Umar yang kedua terjadi pada tahun 1893. Ketika itu, Teuku Umat merasa bahwa Aceh sangat kekurangan senjata dan amunisi untuk memerangi Belanda. Beliau pun kembali menyerahkan diri kepada Belanda bersama tiga belas panglima bawahan dan dua ratus lima puluh pasukannya kepada Gubernur Deykerhooff di Banda Aceh. Peristiwa ini kembali menggegerkan rakyat Aceh. Bahkan Cut Nyak Dien marwah kepada Teuku Umar dan menasihatinya agar ia kembali ke pangkuan Aceh. Pada penyerahannnya yang kedua ini, Teuku Umar mendapatkan gelar Johan Pahlawan dan diberikan banyak sekali harta. Namun pada tanggal 30 September 1896, Teuku Umar dengan seluruh pasukannya meninggalkan Belanda untuk selama-lamanya dengan membawa lari 800 pucuk senjata, 25,000 butir peluru, 500 kg mesiu, 5 ton timah, uang tunai 18.000 dolar dan alat-alat militer yang berharga.
Apa yang kita lihat dari kisah seorang Teuku Umar ini memang agak sulit dimengerti. Bagaimana beliau bisa berjuang mati-matian bersama rakyat Aceh lalu beberapa waktu kemudian beliau beliau menyerah kepada Belanda. Terlebih hal ini terulang sebanyak dua kali. Jika kita tinjau persoalan ini dari sisi keislaman, kita akan dapatkan bahhwa apa yang dilakukan Teuku Umar bukanlah suatu pengkhianatan melainkan strategi perang, karena Rasulullah sendiri pernah bersabda bahwa seseorang diperbolehkan untuk berbohong ketika ia berada di tiga keadaan yaitu saat perang, mendamaikan saudaranya, dan berbohong pada istri atau suami demi menyenangkannya. Apalagi tindakan ini telah mendapatkan restu dari Teuku Cik Ditiro yang merupakan ulama pada saat itu.
Teuku Umar melakukan pembelotan karena sebelumnya berbagai usaha telah dilakukannya untuk mendapatkan sekutu dan bantuan militer dari negara lain, namun usaha tersebut gagal. Aceh pernah mencobanya pada Amerika Serikat, tetapi pada saat itu Amerika Serikat baru saja selesai dari perang saudara (1861-1865) pada masa Abraham Lincoln sehingga kondisi dalam negrinya belum stabil. Lagipula, Amerika Serikat adalah negara beragama protestan yang notabene sama dengan Belanda. Yang kedua dengan kekaisaran Prancis di bawah kepemimpinan kaisar Napoleon III. Prancis pun tak bisa memberikan bantuan karena kekaisaran Prancis sedang mengalami kemunduran akibar perang Prancis-Jerman(1870-1871), dan yang terakhir, kesultanan Aceh pernah meminta bantuan pada kekhalifahan Turki Utsmani yang juga tidak berhasil. Pada saat itu, kekhalifahan Turki Utsmani tidak sama keadaannya seperti pada abad ke-15 M yang sedang jaya. Turki Utsmani pada saat itu sedang sibuk menghadapi perang-perang dengan Eropa. Karena Turki Utsmani sedang dalam keadaan kritis (the sick man in Europe), ia tidak bisa memberikan bantuan kepada Aceh. Jadi, pembelotan Teuku Umar kepada Belanda merupakan jalan terakhir yang ditempuh Aceh untuk mendapatkan bantuan militer dan logistik.
Lagi pula, menurut Carl Van Clausewitz, secara teori tujuan perang adalah melucuti (disarm) musuh, di mana musuh harus ditempatkan pada situasi sedemikian rupa yang paling tidak menyenangkan baginya, membuatnya tidak bisa bertahan atau paling tidak menempatkannya pada posisi yang paling berbahaya. Keadaan demikian diharapkan akan meruntuhkan semangat atau keamanan (will) musuh untuk melawan. Tindakan Teuku Umar yang melucuti senjata dan harta Belanda merupakan salah satu perwujudan dari teori tersebut.
Dikatakan sebagai penghianat pun sebenarnya tidak benar karena selama beliau berpihak pada Belanda, Teuku Umar selalu mengirimkan berbagai logistk dan persenjataan kepada pasukan Aceh secara diam-diam. Jika benar Teuku Umar adalah seorang pengkhianat yang memikirkan kepentingan pribadinya, lantas apalah gunanya mendermakan harta unruk peperangan? Lebih baik perkaya saja diri sendiri.
Jadi, apa yang dilakukan Teuku Umar bukanlah suatu pengkhianatan melainkan salah satu strategi perang, pada saat itu rakyat Aceh tidak memiliki persenjataan secanggih persenjataan milik Belanda, itulah pula yang menyebabkan Teuku Umar melakukan pembelotan. Jika persenjataan yang dimiliki oleh pasukan Aceh sama hebatnya dengan milik Belanda, maka insyaaAllah peluang kemenangan Aceh akan semakin besar, dan karena pasukan Aceh adalah orang-orang islam yang tidak takut mati. Bahkan Cut Nyak Dien berkata pada anaknya ketika Teuku Umar meninggal dunia, “sebagai perempuan Aceh, kita tidak boleh menumpahkan air mata kepada seseorang yang sudah mati syahid”
Karena mati syahid adalah dambaan setiap muslim.
Daftar Pustaka:
Safwan, Mardanas. 2001. Teuku Umar. Jakarta: Balai Pustaka
Suryanegara, Ahmad Mansur. 2012. Api Sejarah. Bandung: Grafindo Media Utama
Sumakul,f. Willy. (6 Februari 2014). Falsafah dan Teori Perang: Warisan dari Carl van Clausewitz. Diperoleh dari
http://www.fkpmaritim.org/falsafah-dan-teori-perang-warisan-carl-van-clausewitz-yang-masih-relevan-sampai-saat-ini/
Riezal, Chaerol. (12 Februari 2015). Kisah “Dua Rupa” Teuku Umar. Diperoleh dari h
http://www.hidayatullah.com/kajian/sejarah/read/2015/02/12/38659/kisah-dua-rupa-teuku-umar.html
Dadek, Teuku Ahmad (7 Februari 2016). 14 sifat kepemimpinan Teuku Umar. Diperoleh dari
http://wjyonggoputih.blogspot.co.id/2014/03/sejarah-perjuangan-teuku-umar-dan-tjut.html
Ruslan. (14 November 2013). Dualism kepahlawanan Teuku Umar dan Manipulasi Sejarah Aceh. Diperoleh dari
http://www.kompasiana.com/ruslan./dualisme-kepahlawanan-teuku-umar-dan-manipulasi-sejarah-aceh_551fc56e8133115d2c9df4e9
pict by: acehtrend.com
written by: A.M.A
edited by dailytaqwaa
pict by: acehtrend.com
written by: A.M.A
edited by dailytaqwaa

Komentar
Posting Komentar