Tokoh × Repoeblik = Kontemplasi
Agus Salim, Derita Fajar dan Senja Bapak Bangsa
“ Leiden is Liijden! “
Pemimpin itu menderita!
Itulah sebuah prinsip terkenal yang dipegang teguh oleh diplomat penopang awal kemerdekaan Indonesia, Mashudul Haq yang kemudian dikenal dengan Agus Salim, seorang cendikiawaan kelahiran koto Gadang Bukit Tinggi pada 8 Oktober 1884.
Ia dijuluki “the grand old man”, dihormati setiap lawan bicaranya karena ketangkasan dan kecakapan dalam setiap kalimat yang beliau ucapkan atau tuliskan. Bagaimana tidak? diplomasi beliau lah yang menjadikan Bangsa Indonesia yang baru berdiri pada saat itu diakui oleh negara-negara lain (de facto de jure), dengan izin Allah ta’ala.
“ kalau tuan tuan melancarkan sekali lagi aksi militer terhadap kami, kami akan mencapai pengakuan de jure di seluruh dunia” ketus sang ketua delegasi Indonesia ini ketika Belanda gusar atas keberhasilannya.
Suatu pengakuan yang tak ternilai harganya saat negara-negara arab mengakui kemerdekaan Indonesia pada saat Indonesia kala itu masih bertempat pada kedaulatan Belanda.
Salaamatul insaani fii hifdzhil lisaani.
Kesejahteraan seseorang bergantung pada lisan tuturkatanya.
Pemimpin itu menderita, ya, sebagaimana Agus Salim sang bapak pendiri negara menderita di tengah kekangan pemerintahan Hindia Belanda, namun itulah kesepakatan hidup yang dipilihnya. Agus Salim, Pendidikan dasar ia tempuh di Europeesche Lagere School (ELS), kemudian dilanjutkan ke Hoogere Burgerschool (HBS) di Batavia, sekolah elit pada masa itu. Ketika lulus, ia berhasil menjadi lulusan terbaik di HBS se-Hindia Belanda. Agus Salim dengan usianya yang masih muda kala itu bisa dibilang memiliki masa depan yang cerah, sebagai seorang lulusan terbaik HBS ia bisa bekerja menjadi pegawai negri pada pemerintahan Hindia Belanda, tak tanggung-tanggung bahkan Snouck Hurgronje pada pemilihan staf konsulat Belanda pada Arab menyebut Agus Salim sebagai seorang muslim yang baik sekaligus setia kepada Belanda.
dualistik memang.
Tentulah sebagai seorang muslim yang baik beliau tidak akan memihak kepada Belanda. Bukan karena gaji yang menjadikan ia mau bekerja untuk Belanda yang kala itu gaji beliau mencapai 2.400 gulden atau setara dengan 15 juta rupiah pada saat ini. Beliau berujar “mungkin di kala itu atasan saya orang Belanda sering merasa kesal, karena dalam mengurus jemaah haji, jika terdapat persoalan, saya lebih berpihak kepada jemaah daripada melihat masalah dari pihak Konsulat Belanda”.
Keberpihakannya pada rakyat pribumi dan kritisnya terhadap pemerintah Hindia Belanda membuat Agus Salim menjadi orang penting di mata rakyatnya, ia diasingkan dan dipindahkan 3 kali berturut turut oleh pemerintah Hindia-Belanda, namanya dianggap mengancam pemerintahan Hindia-Belanda, itulah yang juga menjadi penyebab Agus Salim miskin sampai akhir hayatnya. Bahkan rumahnya masih berstatus kontrak kala seorang dari 9 orang perumus Pancasila itu meninggal. Di dalam gang sempit berkelok kelok dan becek, di situlah rumah sepeninggalan Agus Salim, Jalan Gereja Theresia yang kini menjadi Jln. Agus Salim no.72 Jakarta. Menderita memang.
Berpindah-pindah rumah dalam kurun waktu hanya sebulan pernah dirasakan Agus Salim dan keluarganya. Namun begitu, istrinya, Zaitun Nahar tak pernah mengeluh. Saat tak ada lauk pauk pun, nasi campur kecap, mentega, dan susu jadi hidangan. Sebagaimana pesan K.H Wahid Hasyim “kita berlapar lapar supaya tidak melupakan nasib kaum lapar” Nabi pun hanya meminum air putih apabila tidak ada makanan di rumahnya. Begitulah sikap pemimpin, rela menderita, tidak merengek dan meminta-minta.
melaratnya hidup hingga akhir hayatnya (1954) Agus Salim memang merupakan konsekuensi dari jalan hidup yang ia pilih. Dalam Seratus Tahun Agus Salim, Kustiniyati Mochtar menulis, dengan pendidikan dan kemampuan tinggi, sebenarnya Agus Salim dapat hidup enak bila mau bekerja untuk pemerintah Hindia-Belanda. Lantaran sikapnya yang kritis terhadap kebijakan pemerinyah kolonial ia kesulitan mencari nafkah.
Ia berkepala batu, wibawanya terlihat dari ucapan-ucapannya, pernah suatu kali seorang anaknya meninggal dan tak memiliki uang untuk membeli kain kafan, lantas ia mengambil taplak meja dan kain lembu tak terpakai, ia menolak kain kafan dari temannya. Katanya “ adapun untuk yang mati, cukuplah kain itu. Selagi dia masih hidup dia memerlukan pertolongan, akan tetapi sekarang dia tidak lagi memerlukannya”.
Jarang pemimpin-pemimpin negara saat ini yang turut ikut merasakan penderitaan hidup di pagi hari hatta malam hari sebagaimana rakyat jelata. Yang ada malah banyak yang duduk berfoya pada singgasana jabatannya dan asik menikmati kucuran uang rakyat. Alih-alih membuat pembangunan ekonomi Indonesia namun memasukkannya ke kantong celana. Hingga dijit ATMnya menjulang nilai rupiah.
Roem, salah satu murid Agus Salim menulis bagaimana rumah beliau “rumah itu menunjukkan rumah keluarga yang kurang berada!”.
LEIDEN IS LIIJDEN!
Pemimpin seperti inilah yang dirindukan bangsa, bukan karena kesederhanaan saja, pemimpin yang bersahaja, kepekaan nurani, keindahan lisannya, prinsipnya yang teguh pada amanah dan Agama Islam adalah suatu obat dari segala jenis penyakit zaman yang bercokol pada Bangsa Indonesia, Bangsa yang sedang digerogoti virus modernisme. Bangsanya merdeka, namun hati dan pikirannya rakyatnya dijajah.
Referensi :
Serial Buku Tempo, Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik
https://in.coinmill.com/IDR_NLG.html#NLG=1.600
https://www.republika.co.id/berita/senggang/film/18/03/17/p5pm9f335-belajar-dari-kesederhanaan-haji-agus-salim
http://jejakislam.net/hidup-melarat-ala-perumus-pancasila/
pict taken from google+
pict taken from google+

Komentar
Posting Komentar