Ke-Perempoean-an
Jika akan datang tanggal 21 April niscaya muncullah poster poster yang kita kenali sebagai Ibu Kartini. Sosoknya dikenal sebagai ibu kemerdekaan, pejuang emansipasi wanita. Raden Ajeng Kartini, wanita muslimah kelahiran Jepara. Hari lahirnya diperingati sebagai simbol kemerdekaan bagi kaum wanita, “ibu kita kartini pendekar bangsa, pendekar kaumnya untuk merdeka” begitulah sekutip dua kutip lirik yang telah diajarkan kepada anak-anak bangsa sejak duduk di bangku sekolah, seorang pembela kaumnya. Sebenarnya, hal apa yang diperjuangkan R.A Kartini hingga menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia dalam perjuangan emansipasi wanita? Pelopor kebangkitan perempuan?
Sejatinya, R.A Kartini (1874-1904) Pada masa hidupnya, tidak begitu dikenal oleh publik. Kartini dikenal oleh khalayak luas pada tahun 1920 lantaran surat-suratnya yang berisi ide Kartini yang dipublikasikan secara massiv oleh beberapa tokoh, sehingga namanya didengar oleh penjuru rakyat Indonesia sebagai wanita Jawa yang berpikiran maju dan membawa perubahan. Namun anehnya ide-ide kartini dalam bukunya dimunculkan 6 tahun setelah kematiannya yaitu tahun 1911 tanpa wasiat apapun, yang artinya, pengenalan ide-ide Kartini kepada khalayak tidak diketahui atau mungkin tidak diinginkan oleh Kartini sendiri.
Apakah hanya Kartini yang menjadi sosok pejuang emansipasi wanita?
Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap Kartini, tentu kita sudah mengetahui wanita wanita lain yang lebih hebat dari hanya sekedar menyampaikan ide-ide ke- perempuan-an lewat surat. Wanita wanita ini selain seorang muslimah, mereka juga pejuang hak-hak kaumnya bahkan bangsanya secara luas dan tak pernah tunduk dan takut terhadap Kolonial, sebut saja antara lain Cut nyak Dien yang senantiasa berjihad dan terlibat dalam peperangan melawan penjajah di wilayah Aceh, Cut Meutia yang setia menemani suaminya Teuku Muhammad dalam melawan penjajah, Sultanah Sofiatuddin yang dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, Siti ‘Aisyah We Tenriolle yang mahir dalam kesusastraan, Dewi Sartika yang membangun sekolah yang belakangan dikenal dengan nama Sakola Kautamaan Istri, Rohana Kudus yang mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia dan Rohana School, dan ia pun menjadi seorang jurnalis di Koto Gadang sampai ia pergi ke Medan, Tengku Fakinah, Malahayati, dan masih banyak lagi.
Kalau Kartini hanya menampilkan idenya melalui surat suratnya, Rohana Kudus menyebarkan idenya secara langsung melalui Koran-koran yang ia terbitkan sendiri, Kalau Kartini berwacana tentang pendidikan kaum wanita, Dewi Sartika lebih jauh, mendirikan Sekolah untuk kaum wanita, kalau Kartini menuntut pendidikan bagi kaum wanita, Sultanah Sofiatuddin memperjuangkan dan mengembangkan ilmu pengetahuan, kalau Kartini memperjuangkan hak-haknya kebebasan yang tertindas Cut Nyak Dien lebih jauh membela kaumnya bahkan bangsa sekalipun dengan menyatakan perang pada penjajah Hindia-Belanda.
Isi Surat Kartini
Ide-Ide Kartini yang dituangkan dalam Suratnya merupakan isi dari pergolakan hati Kartini terhadap keadaan sosial pada masanya yang baginya menindas hak perempuan, dalam tulisannya terlihat Kartini menuntut persamaan
.
.
“ Tidak, tidak! Ia berteriak berseru dalam hatinya… kami manusia seperti halnya laki-laki. Lepaskan belenggu saya! Izinkan saya berbuat dan saya menunjukkan, bahwa saya manusia, Manusia seperti Laki-Laki’’ (Surat Kartini, Agustus 1900)
Pernah suatu kali Kartini menulis kepada teman penanya, seorang perempuan Belanda antara tahun 1899 dan 1994 yang isinya mencritakan curahan hati Kartini berkenaan kehidupannya sebagai wanita Jawa
.
.
“ketika aku berumur 12 tahun aku harus tinggal di rumah dan masuk dalam “sangkar” aku dikurung dan tidak boleh kembali ke dunia itu selama belum berada di sisi suami, seorang laki-laki asing yang dipilih oleh orang tua bagi kami…”
Beliau juga menulis surat-surat yang mengobarkan semangat di antara kaum perempuan
.
.
“Kami anak-anak perempuan yang masih terbelenggu oleh adat-istiadat lama, hanya boleh memanfaatkan sedikit saja dari kemajuan di bidang pendidikan itu. Sebagai anak-anak perempuan, setiap hari pergi meninggalkan rumah untuk belajar di sekolah sudah merupakan pelanggaran besar terhadap adat negeri kami.”
Habis Gelap Terbitlah Terang
Ide-ide yang dilontarkan oleh Kartini melalui surat-suratnya tidak sekedar dasar berpikir Kartini secara pribadi, namun pemikiran kartini dipengaruhi dan didukung oleh teman Belandanya yang kerap menjadi alamat surat-surat yang ditulis Kartini, Stella Zehandelar dan merupakan seorang aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderpartij (SDAP) partai politik sosialis di Belanda yang mendukung politisi Liberal (1897-1919). Pertemuan dengan Stella Zehandelar berawal dari penasihat pemerintahan Hindia Belanda, Snouck Hurgronje yang bahkan juga disebut sebagai Syaikhul Islam Jawa atau Mufti Hindia-Belanda. Menurut Van Koningsveid pemerintah colonial mengeti benar sepak terjang Snouck dalam “penyamarannya” sebagai muslim.
Snouck Hurgronje mendorong J.H Abendanon Direktur Departemen pendidikan, Agama, dan Kerajinan pada kala itu agar memberikan perhatian pada Kartini, mengapa tidak? Abendanon merupakan aparat pemerintahan kolonial dan juga seorang orientalis, kemudian Abendanon mengunjungi Kartini hingga kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. J.H Abendanon memperkenalkan surat-surat Kartini setelah 6 Tahun kematian Kartini yang diberi judul Duisternis tot Lich yang kemudian di dalam bahasa Indonesia diberi judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku ini makin dikenal oleh secara luas setelah di terbitkan dalam Bahasa Belanda dan Indonesia, buku ini juga diterbitkan dengan bahasa Inggris dengan judul Letters of a Javaness Princess.
Ide-ide yang dilontarkan kartini dan juga teman Belandanya dikenal dengan nama Feminisme, ideologi yang dikenal dengan menuntut persamaan hak antara perempuan dan laki laki. Tibanya ide ini di Indonesia adalah ketika diterbitkannya surat-surat Kartini yang mengusung emansipasi wanita. Selain merasa tidak diperlakukan adil sebagai perempuan layaknya saudara laki-lakinya yang disekolahkan di Universitas Leiden Belanda, Ia pun merasa terhina oleh adanya perkawinan permaduan (poligami).
Ide-ide Feminisme menganggap bahwa segala hal di lingkungan mengartikan bahwa laki-laki lebih unggul daripada perempuan, dan perempuan sejati akan melawannya menuntut akan haknya sebagai perempuan yang bisa hidup seperti halnya laki-laki, maka dari semua dalil dalil feminisme diantaranya adalah mereka menyatakan tubuhnya adalah miliknya dan kesopan santunan tidak dibutuhkan jika ingin dihargai.
pada akhirnya seorang feminis menganggap syariat agama pada wanita sebagai hal yang menindas kebebasannya.
Perkembangan Ideologi Feminisme di Indonesia
Tahun 1879 – 1904. Sejarah feminisme pada era penjajaham telah dipelopori oleh RA Kartini, Setelah itu lahirlah tokoh feminisme di Jawa Barat yaitu Dewi Sartika. Pada tahun 1912, Organisasi perempuan yang lahir pertama adalah Poetri Mardika, setelahnya, muncullah organisasi-organisasi perempuan lain seperti Putri Sejati dan Wanita Utama. Selanjutnya Gerakan Pembaharuan Islam Muhammadiyah yang terbentuk tahun 1917 melahirkan organisasi wanita Aisyiah pada tahun 1920 dan kemudian diikuti oleh organisasi perempuan kaum katolik, dan protestan. Demikian pula di Maluku, Minahasa dan Minangkabau. Gerakan organisasi Aisyiah ini memiliki isue sentral agar perempuan mendapat pendidikan yang baik dan perbaikan kondisi poligami. Sedangkan organisasi perempuan kaum katolik dan protestan menyuarakan anti poligami. Tahun 1920 muncullah Organisasi Sarekat Rakyat yang menyuarakan peningkatan upah dan kondisi kerja yang baik bagi kaum perempuan. Disusul kemudian oleh lahirnya organisai lainnya yang memperjuangkan perlunya pendidikan bagi kaum perempuan, menentang perkawinan anak-anak, permaduan serta perdagangan perempuan dan anak-anak.
Pada kurun tahun 1928-1930 ramai munculnya organisasi-organisasi perempuan. Pada tahun 1928 muncullah 30 organisasi perempuan diantaranya Persatoean Perempuan Indonesia (PPI) yang menyuarakan reformasi pendidikan dan reformasi perkawinan yang kemudiam namanya diganti menjadi Perikatan Perhimpunan Istri Indonesia (PPII) yang menyuarakan penghapusan perdagangan perempuan dan anak. Organisasi Istri Sedar (1930) masih tetap menyuarakan anti poligami dan perceraian. Organisasi perempuan berkembang pesat pada tahun 1930-an. Dari isu perbaikan hak-hak perempuan, semakin pesatnya arus modernisasi semakin berkembang paham feminisme
Meresapi Kesusastraan
Pada awal era reformasi tahun 1998 ketika keran kebebasan terbuka lebar, feminisme mulai menyuarakan lagi idenya, muncul sosok sastrawan Ayu Utami dengan novelnya berjudul Saman. Ketika diterbitkan, Saman terjual dengan volume yang mengagumkan, antara April 1998 hingga Maret 1999, buku ini sudah dicetak ulang sebanyak duabelas kali, yang berarti buku itu dicetak ulang setiap bulannya. Sampai Februari 2011, Saman telah dicetak ulang sebanyak 29 kali. Selain itu Saman juga diterjemahkan ke dalam enam bahasa asing. Terbitnya novel ini bisa dibilang membawa warna baru bagi sastra, aliran sastra berhaluan feminis ini dikenal dengan sebutan “Sastra Wangi” ia adalah kumpulan-kumpulan karya sastra penulis perempuan yang berhaluan feminis. Penulis penulis Sastra Wangi diantaranya adalah
Djenar Maesa Ayu, Ayu Utami, Dewi Lestari, dan Fira basuki
Isi dari novel Saman bisa dibilang cukup Erotis, tidak tanggung-tanggung Ayu Utami memberikan teks dalam novelnya mendekati unsur seksual.
memanglah.. seorang feminis sejati akan menyatakan “my body is my right”
Pikul Pikir Ide Kesetaraan Gender
Dalam sebuah artikel dinyatakan bahwa Feminisme adalah tentang mengubah peran-peran gender, norma seksual dan praktik-praktik seksis yang membatasi diri. Bukankah justru ini menyalahi kodrat? Kalau begitu apa gunanya fisik yang telah ditentukan oleh Tuhan jikalau perempuan saja bisa menjadi laki laki? Lalu apa perempuan akan wajib menafkahi laki-laki? Lalu ketika ada seorang pencuri masuk ke rumah suami bersembunyi dan istri melawan? Dan dikatakan bahwa dekonstruksi maskulinitas pada feminisme tidak sama dengan mengebiri laki laki? Mari kita cari sebanyak apa suami yang perannya ingin digantikan oleh sang istri.
bagaimana dengan mosi pernikahan sesama jenis? Feminisme menganggap tidak ada hubungannya, jati diri seseorang dengan jenis kelamin yang ia miliki, apabila fisiknya perempuan dan kelaminnya adalah perempuan tidak berarti orientasi seksualnya sesuai dengan tubuhnya, "fisik tidak memengaruhi orientasi seksual jadi bebas apabila perempuan atau laki laki menyukai sesama jenisnya jika perempuan dan laki laki dibatasi dari penampilan atau jiwanya artinya itu sudah melanggar kesetaraan gender atau mengotak-kotakkan gender tertentu". sebuah praduga yang sangat sangat keblinger.
ambillah hikmah tuhan menciptakan kita berbeda jenis
وَمِنْ كُلِّ شَيْءٍ خَلَقْنَا زَوْجَيْنِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah.” (QS. Adz Dzariyat: 59).
fisik perempuan dan laki laki tentu berbeda, begitu juga psikisnya, mana mungkin semua bisa disamakan atau disetarakan kecuali dengan paksaan yang berbuah nihil. Allah menciptakan perempuan dan laki laki pada porsinya masing masing, yang satu tidak bisa melebihi yang lain. Perempuan tidak bisa menjadi laki laki begitu pun sebaliknya.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)
perempuan dan laki laki sejatinya setara, tidak perlu penyetaraan lagi, karena sebenarnya yang terjadi bukanlah penyetaraan namun peng-identik-kan.
Menyingkap 'Sejarah' Kartini
Mengenai Ide-ide Kartini yang Feminis ini, Harsja W. Bachtiar yang mendapat gelar doctor di Harvard University ini menyatakan “ Orang-orang Indonesia di Luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka.”
Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4) prof. Muhammad Naquid Al-Attas menulis
“ Kecenderungan ke Arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hamper semua sarjana-sarjana yang akan menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherannkan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini”.
Tulis Harsja W Bachtiar; ”kita mengambil alih Kartini sebagai lambing emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambing budaya ini , meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.”
Pada masa hidupnya, Kartini begitu terkurung dan tidak dapat belajar Agama Islam lebih dalam mengingat aturan-atturan pemerintahan Hindia-Belanda pada saat itu yang tidak mengizinkan penerjemaah Al-Qur’an dengan bahasa Jawa bahkan gerak para ulama pun dibatasi, sekolah sekolah rakyat, voolks school yang sekuler dibangun layaknya musim semi, dan kenyataannya pendidikan sekuler sekolah-sekolah Belandalah yang diterima Kartini, sebagai anak dari seorang Priyayi (Bupati) Kartini disekolahkan di ELS (Europese Lagere School).
Padahal Kartini sendiri merupakan perempuan kelahiran Jawa yang keluarganya taat kepada islam, kakek dari ibu Kartini merupakan guru agama di Telukawur, Jepara, Kiyai Haji Madirono, ia merupakan anak ke 5 dari 11 saudara.
Sebagai seorang muslimah tapi tidak serasa muslimah karena tekanan penjajahan Belanda yang meliputi penjajahan iman orang-orang muslim di nusantara (gospel). Maka dari itu semua, dapat terlihat pula kegundahan Kartini pada surat-suratnya.
Pada suatu kali Kartini menulis kepada Snouck Hurgronje yang Kartini kenal sebagai pakar Agama Islam pada masanya. Melalui istri J.H Abendanon ia mengatakan
.
.
“ salam, bidadariku yang manis dan baik!... masih ada lagi satu pertanyaan yang hendak saya ajukan kepada nyonya Dr. Snouck Hurgronje sudikah Nyonya bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan islam serta anak perempuannya” (Lihat, Buku Kartini: Surat-Surat kepada Ny.R.M Abendanon-Mandiri dan Suaminya, (penerjemah Sulatin Sutrisno) (Jakarta: penerbit Djambatan,2000) hal 234-235.
Bagaimana mungkin hal-hal menyoal agama Islam dibahas oleh seorang penjajah yang munafik yang hendak menghancurkan Islam? Padahal Snouck sendiri menulis tentang Islam
.
.
“sesungguhnya agama ini meskipun cocok untk membiasakan ketertiban kepada seorang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya"
Kegundahan Kartini pada agama Islam juga terlihat dari suratnya yang ia haturkan kepada Stella Zehandellar ia mempertanyakan Islam kepadanya pada November 1899;
Mengenai agamku, Islam, aku harus menceritakan apa? Islam melarang umatnya mendiskusikan ajaran agamanya dengan agama lain. Lagi pula aku beragama islam karena nenek moyangku islam. Bagaimana dapat mencintai agamaku, jika aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya?
Al-Qur’an terlalu suci untuk diterjemah dalam bahasa apapun. Tidak ada yang mengerti bahasa Arab di sini. Di sini, orang belajar membaca Al-Qur’an tapi tidak memahami apa yang dibaca.
Aku piker adalah gila orang yang diajar membaca tapi tidak diajar apa yang dibaca, itu sama halnya engkau menyuruhku menghapal Bahasa Inggris teapi tidak memberi artinya.
Aku pikir, tidak jadi orang saleh pun tidak apa-apa asalkan jadi orang baik hati. Bukankah begitu stella?
dan pada suratnya ia nyatakan kegundahannya terhadap Al-Qur’an pada Agustus 1902 yang dikirimnya ke Ny. Abendanon
dan waktu aku tidak mau lagi melakukan hal-hal yang tidak jelas apa perlu dan manfaatnya. Aku tidak mau lagi membaca Al-Qur’an belajar menghapal perumpamaan-perumpamaan dengan bahasa Arab yang aku mengerti artinya.
Jangan-jangan guruku pun tidak mengerti artinya. Katakanlah kepadaku apa artinya, nanti aku akan mempelajari apa saja. Aku berdosa, kita ini terlalu suci, sehingga kami tidak boleh mengerti apa artinya.
Dalam buku karangan Rahayu Amatullah yang berjudul Kartini dan Muslimah dalam Rahim Sejarah, menuliskan kartini memiliki jiwa spiritualitas yang tinggi batinnya yang haus tidak terpenuhi lantaran kebijakan pemerintahan Hindia-Belanda pada masanya.
Buah Keniscayaan Ide Kartini
Pada akhirnya ide ide kartini menyoal kesetaraan gender dibuangnya jauh jauh,
Rasa kegigihan Kartini dalam mempelajari agama yang dianutnya membuatnya terus bertanya dan mencari jawabannya hingga suatu ketika Allah menakdirkan Kartini untuk belajar Agama pada seorang Kiai, ditemuinya Kiai Sholeh Darat di suatu pengajian di rumah pamannya yang merupakan bupati Demak, Pangeran Ario Hadiningrat.
Ketika Kartini bersua dengan Kiai Sholeh Darat, saat itu Kiai sedang mengajarkan Tafsir Surat Al-Fatihah, sepanjang kajian itu ia tertegun, Kartini mendapatkan apa yang ia tak pernah dapatkan sebelumnya sebagai seorang wanita muslimah, yaitu cahaya ilmu.
Kartini begitu tertarik akan pencerahan dari Kiai Sholeh Umar dari Darat. Kartini mendesak pamannya untuk menemui Kiai Sholeh Darat. Lantas ia berkata pada Kiai Sholeh Darat
.
.
“Kyai, Selama hidupku baru kali ini aku berkesempatan memahami makna surat Al-Fathihah. Surat pertama dan induk Al-Qur’an. Isinya begitu indah, menggetarkan sanubariku”
Pada akhirnya Kiai Sholeh Darat menuliskan kitab Tafsir Faid Al- Rahman yang ditulis salam Bahasa Jawa.
Kisah ini didapat dari cucu Kiai Sholeh Darat, Ny Fadhilah Sholeh. Menurutnya, Takdir Allah-lah yang mempertemukan Kartini dan Kiai Sholeh Darat.
Seketika pandangan Kartini akan dunianya berubah. Apa yang ia pertanyakan terjawab sudah, batinnya yang haus terisi dengan cinta kepada Agama Islam.
Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon pada 1 Agustus 1903 ia menuliskan
.
.
"Ingin benar saya menggunakan gelar tertinggi, yaitu hamba Allah".
.
.
.
Referensi:
Republika.com
Insist.com
Wikipedia
Tulisan tulisan Harsja W Bachtiar
Kompasiana.com
Artikel2 ttg sastra dan tokoh2 sastra.
Makalah ide Feminsme
Sarkub.com’
Buku Sejarah Perspektif Baru, penulis Tiar Anwar Bachtiar dkk
pict by timthumb.php
pict by timthumb.php
wallahu a'lam bishawab
Komentar
Posting Komentar